HARI KESAKTIAN PANCASILA
Oleh
(AKBP DADANG DJOKO KARYANTO, SH,SIP,MH)
Sejarah singkat lahirnya Pancasila
Pancasila sebagai dasar negara mempunyai
peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan cita-cita luhur bangsa
Indonesia. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terpampang dalam lambang negara
kita sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting dalam mewujudkan Persatuan
dan Kesatuan. Pemikiran-pemikiran mengenai Pancasila tersebut salah satunya
adalah Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Republik indonesia.
Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno
dalam pidatonya di sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau yang dikenal dengan
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang
beranggotakan 60 orang mengeluarkan gagasan Pancasila sebagai sebuah Dasar Negara
yang merdeka. Bahwa panca artinya lima, dan sila adalah azas/dasar, pancasila
berarti lima azas/dasar. Pancasila yang dimaksud oleh Ir. Soekarno dalam
pidatonya tersebut adalah :
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau
Perikemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa
Ir. Soekarno, dalam sidang tersebut juga mengatakan “jika saudara-saudara
tidak menyukai angka lima, maka Pancasila akan saya peras menjadi Trisila”,
yaitu :
1. Sosio Nasionalisme
2. Sosio Demokrasi
3. Ketuhanan
Sosio nasionalisme berarti kebangsaan dan
perikemanusiaan atau internasionalisme, sosio demokrasi berarti demokrasi dalam
wilayah politik dan demokrasi dalam wilayah ekonomi, ketuhanan itu sendiri
adalah ketuhanan yang berkebudayaan. Lalu Ir. Soekarno juga mengatakan, “jika
saudara-saudara tidak menyukai Trisila, maka akan saya peras lagi menjadi
Ekasila”, yaitu :
“Gotong royong” adalah intisari dari pancasila, karena dalam goyong royong terdapat
keabadian, yaitu dinamika yang konstruktif.
Setelah melalui proses persidangan yang
dinamis selama tiga hari, akhirnya seluruh peserta sidang Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang beranggotakan 60 orang
tersebut menyepakati Pancasila yang digagas oleh Ir. Soekarno sebagai sebuah Dasar
Negara pada tanggal 1 Juni 1945. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang meyepakati bahwa Pancasila adalah
sebuah dasar dari berdirinya Negara Indonesia, 77 (tujuh puluh tujuh) hari
kemudian, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannya dan mendirikan sebuah negara merdeka yang sekarang kita sebut
dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu hari pasca revolusi 17 Agustus
1945, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945 redaksional sila persila dalam pancasila
didewasakan menjadi:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil
dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin
Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia
Tinjauan singkat tentang Kesaktian Pancasila
Terhadap Gerakan PKI
“Pada tanggal 30 September 1965, adalah
awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Pemberontakan ini merupakan wujud
usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis. Hari itu, enam Jendral
dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat
kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami
kegagalan. Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30
September G30S-PKI dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian
Pancasila, memperingati bahwa dasar Indonesia, Pancasila, adalah sakti, tak
tergantikan.”
Asal muasal kejadian ini disebabkan karena
usaha PKI untuk membentuk “Angkatan Kelima” beranggotakan petani dan para buruh
yang bermaksud untuk menentang Federasi Malaysia. namun Gagasan ini ditentang
keras oleh AD. Untuk memperkuat gagasannya, PKI mulai meniupkan adanya dewan
jenderal. PKI mengklaim menemukan “dokumen Gilchrist” yang antara lain di
dalamnya terdapat kalimat : “ …masa depan kerja sama dengan teman-teman kita di
AD” . Kata “teman-teman kita di AD” diterjemahkan PKI sebagai adanya dewan
jenderal. Gilchrist adalah nama duta besar Inggris di Indonesia. Kegaduhan ini
berlangsung dengan Presiden Sukarno berada di pusat. Saat presiden sakit keras,
maka, situasi menjadi sangat matang, dan meletuslah peristiwa yang dikenal
sebagai Gerakan 30 September itu. Jenderal Suharto mengatakan bahwa gerakan ini
adalah sebuah usaha kudeta untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang
sah, dan pasti didalangi oleh PKI, maka pada tanggal 12 Maret 1966, dengan
SUPERSEMAR, Jenderal Suharto membubarkan PKI dan menyatakan bahwa PKI dan
seluruh organisasi lain yang terkait dengannya dinyatakan terlarang, termasuk
ajaran-ajaran komunisme/marxisme, dan Leninisme. Hal ini diperkuat dengan TAP
No XVIII/MPRS/1966.
Demikian ulasan singkat tentang sejarah kelahiran
Pancasila dan tragedi 30 Setember 1965 yang memunculkan momentum 1 Oktober 1965
sebagai Hari Kesaktian Pancasila.